Skip to main content

Posts

Showing posts with the label imajinasi dan iptek

Fiksi Sains sebagai Motivasi Inovasi

Sebelum jauh mengungkap peran fiksi sains sebagai motivasi inovasi, terlebih dulu marilah kita ketahui masalah yang berkaitan dengan IPTEK dan inovasi . Khususnya IPTEK dan inovasi di Indonesia itu sendiri.   IPTEK dan inovasi bisa diibaratkan sekeping mata uang logam yang tidak bisa dipisahkan. Ilmu pengetahuan terus berkembang, dan teknologi-teknologi baru terus ditemukan. IPTEK telah dan sedang menjadi sebab utama dari dinamika umat manusia, demikian dikatakan Suryohardiprojo   (1995: 148) dalam bukunya Membangun Peradaban Indonesia . Naluri manusia untuk hidup telah melahirkan berbagai macam penemuan teknologi. Artinya, perkembangan IPTEK tidak bisa dibendung melainkan akan terus berinovasi atau mengalami pembaruan sesuai dengan perkembangan kebutuhan manusia. Manusia berbeda dengan makhluk hewan. Manusia dibekali akal pikiran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan sehingga berhasil menciptakan apa (baca: teknologi) yang membuat kehidupan menjadi lebih baik ...

Memasyarakatkan IPTEK Lewat Fiksi Sains

Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) seringkali hanya dipahami sebagai sebuah produk yang sudah jadi. Masyarakat menganggap hukum-hukum serta rumus-rumus fisika atau matematika sebagai sesuatu yang biasa. Sedikit saja orang yang kemudian mempertanyakan, kapan dan bagaimana sebuah rumus fisika atau matematika ditemukan. Coba, apakah kamu pernah bertanya (minimal dalam hati) tentang bagaimana cara kerja dan proses penemuan teknologi seperti handphone, internet, dan peralatan canggih lainnya? Semoga saja pernah, meski tidak atau belum berusaha menemukan jawabannya.  Selain kenyataan di atas, pelajaran-pelajaran sains di sekolah juga seringkali dianggap sebagai sesuatu yang rumit, sulit, dan bahkan menakutkan. Bukankah begitu? kamu atau kebanyakan dari temanmu mungkin menganggap bahwa mata pelajaran sains hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual yang tinggi. Mitos-mitos tersebut telah berjalan turun-temurun sehingga membuat generasi muda di I...

Teknologi yang Terinspirasi dari Fiksi Sains

Ingin tahu teknologi apa saja yang terinspirasi dari fiksi sains? Di internet terdapat salah sebuah website yang memuat penemuan-penemuan baru yang inspirasinya diperoleh dari fiksi sains, yaitu www.technovelgy.com. Penulis sempat tercengang dan geleng-geleng kepala ketika pertama kali mengunjungi situs tersebut. Luar biasa! Ternyata ada banyak sekali penemuan-penemuan yang terinspirasi dari fiksi sains. Melalui situs itu pula, kita bisa mencari tahu berbagai penemuan, teknologi dan ide-ide penulis fiksi sains. Ada lebih dari 2 . 150 penemuan yang tersedia di situs tersebut. Kita juga bisa mencari arti istilah-istilah tertentu yang muncul dalam fiksi ilmiah. Berita-berita mengenai fiksi ilmiah juga disajikan dalam situs yang luar biasa tersebut. Setelah berselancar lama di situs tersebut, akhirnya penulis mendapatkan sebuah kesimpulan bahwa terkadang sebuah penemuan diprediksi terinspirasi dari beberapa karya fiksi sains. Tetapi terkadang pula, sebuah karya fiksi sains bisa mengin...

Karya Fiksi Sebagai Inspirasi Sains

Anda mungkin pernah bertanya-tanya: Apakah terdapat hubungan positif antara banyaknya sastrawan yang telah melahirkan karya besar di sebuah negara dengan kemajuan dalam bidang sains dan teknologi? Wah, itu pertanyaan yang bagus. Tapi, sudahkah kamu menemukan jawabannya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu untuk melihat langsung kenyataan yang terjadi di negara-negara maju lalu membandingkannya dengan negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Jerman, Inggris, Prancis, dan Rusia adalah contoh dari negara-negara maju yang banyak memiliki sastrawan besar, sebagian di antaranya adalah peraih penghargaan Nobel bidang sastra. Hal itu merupakan satu kenyataan yang sudah diakui oleh Dunia. Inggris memiliki Shakespeare, T.S Eliot, Vidiadhar Surajprasad Naipaul; Jerman memiliki Goethe, Herman Hesse, Heinrich Boll; Rusia memiliki Leo Tolstoy, Anton Chekov, Pushkin, dan lain-lain; Prancis terdapat Albert Camus, Jean-Paul Sartre, Gao Xingjian dan lainnya. Sejak penghargaan Nobel ...

Titik Temu Sains dan Sastra (2 Habis)

Sastrawan IA Richard dalam bukunya Peotries and Science (1926), sebagaimana dikutip Agus Wibowo (2007) menyatakan bahwa masyarakat modern bakal mengkaji sastra secara serius layaknya kitab suci. Hal ini lantaran krisis spiritualitas dan dahaga batiniah akut yang mereka alami. Pernyataan tersebut kiranya bisa dibenarkan. Mengingat sains dan teknologi yang dianggap segala-galanya, ternyata hanya menawarkan kesenangan dan kebahagiaan semu dan fana. Manusia lambat laun menyadari bahwa selain sains, ada jenis pengetahuan lain yang tak kalah penting bagi kehidupan, antara lain pengetahuan moral dan religius atau keagamaan. Sedangkan di dalam karya fiksi, banyak ditemukan nilai-nilai dari tiga pengetahuan tersebut (moral/budi pekerti, religius, dan sains). Kita tahu, karya sastra (khususnya fiksi) dilahirkan bukan semata untuk menghibur. Lebih dari itu, kelahiran karya sastra memiliki tujuan suci dan mulia, yakni memberikan manfaat bagi umat manusia, khususnya pembaca itu sendiri. Jika tubu...

Titik Temu Sains dan Sastra (1)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sastra masih sering dipandang sebelah mata. Cobalah amati teman-teman di lingkungan sekolahmu. Jika ada jurusan bahasa dan sastra di sekolahmu, apakah peminatnya lebih banyak dibanding jurusan lainnya? Biasanya jurusan bahasa dan sastra diposisikan sebagai jurusan alternatif, dijadikan pilihan terakhir setelah yang lain. Tak hanya di jenjang SLTA, tetapi juga di tingkat Perguruan Tinggi. Coba tanyakan kepada teman-temanmu yang sudah lulus SLTA. Biasanya mereka menempatkan fakultas atau jurusan sastra di urutan kedua atau ketiga setelah jurusan yang lainnya. Fenomena tersebut seolah-olah membuktikan pandangan umum masyarakat kita, bahwa menjadi sastrawan atau ilmuwan sastra tidak lebih baik dibanding yang lainnya. Memilih jurusan selain sastra seolah-olah lebih unggul dibanding dengan memilih jurusan sastra. Ada juga yang menganggap bahwa jenis pengetahuan yang menjadi semakin dominan dan bahkan dianggap sebagai yang paling terjamin kebenarannya adalah...

IPTEK dan Kekuatan Imajinasi (3)

Kembali ke pertanyaan pada posting sebelumnya, apakah IPTEK di Indonesia sudah maju? Menyangkut pertanyaan itu, ada dua pendapat yang berkembang di masyarakat. Pendapat pertama mengatakan bahwa perkembangan IPTEK di Indonesia sudah maju. Buktinya adalah kita sering meraih medali-medali emas dan perak dari lomba atau olimpiade sains dan fisika, baik tingkat Asia maupun Internasional. Sementara pendapat kedua menyatakan bahwa IPTEK di Indonesia saat ini masih tertinggal. Memang benar kita sering mendapatkan medali dalam olimpiade, tetapi prestasi-prestasi tersebut sering kemudian tidak ditindak lanjuti, hanya berhenti di titik itu saja. Terlebih lagi prestasi-prestasi tersebut hanya diraih oleh beberapa orang, sehingga belum layak untuk dikatakan mewakili rakyat Indonesia. Penulis pribadi lebih sepakat dengan pendapat yang terakhir . Bukan berarti tidak percaya dengan kecerdasan yang dimiliki anak negeri. Secara umum harus kita akui bahwa dibanding dengan negara-negara maju seperti Je...

IPTEK dan Kekuatan Imajinasi (2)

Untuk mengetahui bagaimana cara kerja imajinasi Muhammad Muhibbuddin (2011: 38-39) mencontohkan bagaimana Nicolas Copernicus (1437-1543) melahirkan teori heliosentris . Teori heliosentris ini membantah teori geosentris yang sebelumnya telah menjadi dogma selama puluhan tahun. Sesuatu yang menarik dari penemuan Copernicus ini jelas bukan hanya terletak pada hasilnya, yakni keberhasilannya dalam menemukan teori heliosentris , tetapi justru pada awal mula ia menemukan teori tersebut. kamu mungkin bertanya-tanya, bagaimana asal mulanya? Proses lahirnya teori tersebut tidak terlepas dari kegelisahan intelektual Copernicus sendiri ketika merenungkan alam semesta. Misalnya, ketika dia mengamati bintang-bintang di angkasa, dia melihat bahwa di antara bintang-bintang itu terkadang jaraknya tampak lebih dekat dan kadang lebih jauh. Dari fenomena bintang-bintang itu lalu muncullah pertanyaan sederhana di dalam hatinya, “mengapa itu bisa terjadi?” Dari pertanyaan itu, Copernicus kemudian melah...