Skip to main content

Posts

Showing posts with the label kekuatan imajinasi

Latihan Mengembangkan Imajinasi Saintifik

Untuk bisa menulis fiksi sains, paling tidak kamu mesti memiliki imajinasi yang kuat. Sebagaimana tubuh kita, imajinasi juga harus dilatih untuk meningkatkan kekuatannya. Imajinasi bagi seorang penulis ibarat sebuah bengkel bagi semua gagasan manusia, dan semua gagasan besar yang menguntungkan diperoleh dari bengkel ini. Jika bengkel ini tidak berfungsi dengan baik, maka gagasan yang dihasilkan juga kurang berkualitas. Konsekuensinya, ide yang tidak berkualitas akan menghasilkan keuntungan yang lebih rendah. (Sharma, 2008: 56) Untuk melatih daya imajinasi sebagai modal menulis fiksi sains, maka kita perlu untuk membiasakan memikirkan sesuatu yang seolah-olah tidak mungkin terjadi. Ketidakmungkinan ini akan membawa kita untuk mengimajinasikan apa saja. Menurut Einstein, Imajinasi lebih dari sekadar ilmu pasti. Artinya, imajinasi justru melampaui sesuatu yang sudah pasti atau ketidakmungkinan. Imajinasi justru berusaha menghadirkan sesuatu yang orang lain banyak menganggapnya tida...

IPTEK dan Kekuatan Imajinasi (3)

Kembali ke pertanyaan pada posting sebelumnya, apakah IPTEK di Indonesia sudah maju? Menyangkut pertanyaan itu, ada dua pendapat yang berkembang di masyarakat. Pendapat pertama mengatakan bahwa perkembangan IPTEK di Indonesia sudah maju. Buktinya adalah kita sering meraih medali-medali emas dan perak dari lomba atau olimpiade sains dan fisika, baik tingkat Asia maupun Internasional. Sementara pendapat kedua menyatakan bahwa IPTEK di Indonesia saat ini masih tertinggal. Memang benar kita sering mendapatkan medali dalam olimpiade, tetapi prestasi-prestasi tersebut sering kemudian tidak ditindak lanjuti, hanya berhenti di titik itu saja. Terlebih lagi prestasi-prestasi tersebut hanya diraih oleh beberapa orang, sehingga belum layak untuk dikatakan mewakili rakyat Indonesia. Penulis pribadi lebih sepakat dengan pendapat yang terakhir . Bukan berarti tidak percaya dengan kecerdasan yang dimiliki anak negeri. Secara umum harus kita akui bahwa dibanding dengan negara-negara maju seperti Je...

IPTEK dan Kekuatan Imajinasi (2)

Untuk mengetahui bagaimana cara kerja imajinasi Muhammad Muhibbuddin (2011: 38-39) mencontohkan bagaimana Nicolas Copernicus (1437-1543) melahirkan teori heliosentris . Teori heliosentris ini membantah teori geosentris yang sebelumnya telah menjadi dogma selama puluhan tahun. Sesuatu yang menarik dari penemuan Copernicus ini jelas bukan hanya terletak pada hasilnya, yakni keberhasilannya dalam menemukan teori heliosentris , tetapi justru pada awal mula ia menemukan teori tersebut. kamu mungkin bertanya-tanya, bagaimana asal mulanya? Proses lahirnya teori tersebut tidak terlepas dari kegelisahan intelektual Copernicus sendiri ketika merenungkan alam semesta. Misalnya, ketika dia mengamati bintang-bintang di angkasa, dia melihat bahwa di antara bintang-bintang itu terkadang jaraknya tampak lebih dekat dan kadang lebih jauh. Dari fenomena bintang-bintang itu lalu muncullah pertanyaan sederhana di dalam hatinya, “mengapa itu bisa terjadi?” Dari pertanyaan itu, Copernicus kemudian melah...

IPTEK dan Kekuatan Imajinasi (1)

"Bangsa y ang tidak mempun y ai "imagination", tidak mempun y ai konsepsi-konsepsi besar! Tidak mempunyai keberanian - padahal yang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa yang mempunyai "imagination", mempunjai fantasi-fantasi besar: mempun y ai keberanian ; mempun y ai kesediaan menghadapi r e siko….. (Ceramah Presiden Soekarno di Semarang, 29 Juli 1956) Imajinasi merupakan salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan bagi seorang penulis karya fiksi. Seorang pengarang tidak akan bisa menciptakan karya tanpa imajinasi. Namun demikian imajinasi penting dimiliki tidak hanya bagi seorang pengarang atau seniman saja, melainkan bagi semua orang. Sebab imajinasi merupakan sumber dari berbagai penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Begitu pentingnya imajinasi sampai-sampai Einstein yang merupakan tokoh sains masyhur dunia pernah mengatakan, “imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.” (Alan, Emil Burton, 200...