Skip to main content

Posts

Karya Fiksi Sebagai Inspirasi Sains

Anda mungkin pernah bertanya-tanya: Apakah terdapat hubungan positif antara banyaknya sastrawan yang telah melahirkan karya besar di sebuah negara dengan kemajuan dalam bidang sains dan teknologi? Wah, itu pertanyaan yang bagus. Tapi, sudahkah kamu menemukan jawabannya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu untuk melihat langsung kenyataan yang terjadi di negara-negara maju lalu membandingkannya dengan negara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Jerman, Inggris, Prancis, dan Rusia adalah contoh dari negara-negara maju yang banyak memiliki sastrawan besar, sebagian di antaranya adalah peraih penghargaan Nobel bidang sastra. Hal itu merupakan satu kenyataan yang sudah diakui oleh Dunia. Inggris memiliki Shakespeare, T.S Eliot, Vidiadhar Surajprasad Naipaul; Jerman memiliki Goethe, Herman Hesse, Heinrich Boll; Rusia memiliki Leo Tolstoy, Anton Chekov, Pushkin, dan lain-lain; Prancis terdapat Albert Camus, Jean-Paul Sartre, Gao Xingjian dan lainnya. Sejak penghargaan Nobel ...

Titik Temu Sains dan Sastra (2 Habis)

Sastrawan IA Richard dalam bukunya Peotries and Science (1926), sebagaimana dikutip Agus Wibowo (2007) menyatakan bahwa masyarakat modern bakal mengkaji sastra secara serius layaknya kitab suci. Hal ini lantaran krisis spiritualitas dan dahaga batiniah akut yang mereka alami. Pernyataan tersebut kiranya bisa dibenarkan. Mengingat sains dan teknologi yang dianggap segala-galanya, ternyata hanya menawarkan kesenangan dan kebahagiaan semu dan fana. Manusia lambat laun menyadari bahwa selain sains, ada jenis pengetahuan lain yang tak kalah penting bagi kehidupan, antara lain pengetahuan moral dan religius atau keagamaan. Sedangkan di dalam karya fiksi, banyak ditemukan nilai-nilai dari tiga pengetahuan tersebut (moral/budi pekerti, religius, dan sains). Kita tahu, karya sastra (khususnya fiksi) dilahirkan bukan semata untuk menghibur. Lebih dari itu, kelahiran karya sastra memiliki tujuan suci dan mulia, yakni memberikan manfaat bagi umat manusia, khususnya pembaca itu sendiri. Jika tubu...

Titik Temu Sains dan Sastra (1)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa sastra masih sering dipandang sebelah mata. Cobalah amati teman-teman di lingkungan sekolahmu. Jika ada jurusan bahasa dan sastra di sekolahmu, apakah peminatnya lebih banyak dibanding jurusan lainnya? Biasanya jurusan bahasa dan sastra diposisikan sebagai jurusan alternatif, dijadikan pilihan terakhir setelah yang lain. Tak hanya di jenjang SLTA, tetapi juga di tingkat Perguruan Tinggi. Coba tanyakan kepada teman-temanmu yang sudah lulus SLTA. Biasanya mereka menempatkan fakultas atau jurusan sastra di urutan kedua atau ketiga setelah jurusan yang lainnya. Fenomena tersebut seolah-olah membuktikan pandangan umum masyarakat kita, bahwa menjadi sastrawan atau ilmuwan sastra tidak lebih baik dibanding yang lainnya. Memilih jurusan selain sastra seolah-olah lebih unggul dibanding dengan memilih jurusan sastra. Ada juga yang menganggap bahwa jenis pengetahuan yang menjadi semakin dominan dan bahkan dianggap sebagai yang paling terjamin kebenarannya adalah...

IPTEK dan Kekuatan Imajinasi (3)

Kembali ke pertanyaan pada posting sebelumnya, apakah IPTEK di Indonesia sudah maju? Menyangkut pertanyaan itu, ada dua pendapat yang berkembang di masyarakat. Pendapat pertama mengatakan bahwa perkembangan IPTEK di Indonesia sudah maju. Buktinya adalah kita sering meraih medali-medali emas dan perak dari lomba atau olimpiade sains dan fisika, baik tingkat Asia maupun Internasional. Sementara pendapat kedua menyatakan bahwa IPTEK di Indonesia saat ini masih tertinggal. Memang benar kita sering mendapatkan medali dalam olimpiade, tetapi prestasi-prestasi tersebut sering kemudian tidak ditindak lanjuti, hanya berhenti di titik itu saja. Terlebih lagi prestasi-prestasi tersebut hanya diraih oleh beberapa orang, sehingga belum layak untuk dikatakan mewakili rakyat Indonesia. Penulis pribadi lebih sepakat dengan pendapat yang terakhir . Bukan berarti tidak percaya dengan kecerdasan yang dimiliki anak negeri. Secara umum harus kita akui bahwa dibanding dengan negara-negara maju seperti Je...

IPTEK dan Kekuatan Imajinasi (2)

Untuk mengetahui bagaimana cara kerja imajinasi Muhammad Muhibbuddin (2011: 38-39) mencontohkan bagaimana Nicolas Copernicus (1437-1543) melahirkan teori heliosentris . Teori heliosentris ini membantah teori geosentris yang sebelumnya telah menjadi dogma selama puluhan tahun. Sesuatu yang menarik dari penemuan Copernicus ini jelas bukan hanya terletak pada hasilnya, yakni keberhasilannya dalam menemukan teori heliosentris , tetapi justru pada awal mula ia menemukan teori tersebut. kamu mungkin bertanya-tanya, bagaimana asal mulanya? Proses lahirnya teori tersebut tidak terlepas dari kegelisahan intelektual Copernicus sendiri ketika merenungkan alam semesta. Misalnya, ketika dia mengamati bintang-bintang di angkasa, dia melihat bahwa di antara bintang-bintang itu terkadang jaraknya tampak lebih dekat dan kadang lebih jauh. Dari fenomena bintang-bintang itu lalu muncullah pertanyaan sederhana di dalam hatinya, “mengapa itu bisa terjadi?” Dari pertanyaan itu, Copernicus kemudian melah...

IPTEK dan Kekuatan Imajinasi (1)

"Bangsa y ang tidak mempun y ai "imagination", tidak mempun y ai konsepsi-konsepsi besar! Tidak mempunyai keberanian - padahal yang kita lihat di negara-negara lain itu, Saudara-saudara, bangsa bangsa yang mempunyai "imagination", mempunjai fantasi-fantasi besar: mempun y ai keberanian ; mempun y ai kesediaan menghadapi r e siko….. (Ceramah Presiden Soekarno di Semarang, 29 Juli 1956) Imajinasi merupakan salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan bagi seorang penulis karya fiksi. Seorang pengarang tidak akan bisa menciptakan karya tanpa imajinasi. Namun demikian imajinasi penting dimiliki tidak hanya bagi seorang pengarang atau seniman saja, melainkan bagi semua orang. Sebab imajinasi merupakan sumber dari berbagai penemuan dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Begitu pentingnya imajinasi sampai-sampai Einstein yang merupakan tokoh sains masyhur dunia pernah mengatakan, “imajinasi lebih penting daripada pengetahuan.” (Alan, Emil Burton, 200...

Sejarah Munculnya Fiksi Sains

Istilah science fiction , menurut Aldiss dalam Sandya Maulana (2010: 15) digunakan pertama kali dalam majalah cerita pendek Amazing Stories yang disunting oleh Hugo Gernsback dan terbit pertama kali pada tahun 1926. Sebelum istilah science fiction digunakan, sebenarnya karya-karya fiksi sains telah bermunculan sebelumnya. Kecenderungan pemanfaatan sains atau ilmu pengetahuan sebagai unsur dominan dalam bangunan naratif suatu karya fiksi ditengarai muncul sejak novel Frankenstein karya Mary Shelley yang terbit pada tahun 1818. Jauh Sebelum itu, di Dunia Islam, Ibn Thufail (1106-1185) lewat karyanya, Hayy Ibn Yaqzhan telah berhasil mengintegrasikan deskripsi anatomi, astronomi dan filsafat Islam sebagai naluri, intuisi dan akal murni oleh tokoh Hayy. Banyak kalangan sastra yang mengagumi sebagai karya sastra yang bernilai tinggi dan tidak sedikit pula pemikir yang menempatkan karya tersebut dalam kerangka pemikiran Ibn. Thufail. (Mahayana, 2007: 343) Kemudian pada abad ke-19, tepatn...